Tuesday, October 9, 2018

Artikel Keperawatan : Upaya Pembinaan Pendidikan, Pengembangan Kretivitas, dan Faktor Pendukung Kebutuhan Anak


Alam Rahmatullah (P17221183027)
S.Tr Keperawatan Lawang
alamrahmatullah188@gmail.com

Abstrak : pemahaman dilingkup masyarakat tentang kebutuhan terhadap anak Indonesia masih kurang. Perlu diketahui bahwa yang utama yakni kebutuhan pada umumnya dibagi menjadi 3 jenis. Jenis jenis tersebut terdiri dari kebutuhan primer, kebutuhan sekunder dan kebutuhan tersier. Jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia kurang lebih 6.230.000 pada tahun 2007. Macam faktor pemenuhan kebutuhan yang harus dipenuhi ada banyak. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sangat diperlukan dan sangat diutamakan. Pendidikan awal di tingkat PAUD sangat penting, karena dapat menunjang kretivitas anak di tingkat yang lebih tinggi. Psikologi anak juga menunjang daya pikir anak dalam berkreativitas. Keberhasilan anak ditentukan oleh IQ hanya 20 % saja ( faktor internal ), sedangkan 80 % sisanya ditentukan oleh faktor faktor eksternal lainnya. Untuk menunjang kreativitas anak perlu terpenuhnya pula Nutrisi dan Gizi yang seimbang bagi anak. Pendidikan ibu juga mempengaruhi terpenuhnya kebutuhan anak. Tingkat kreativitas anak dari ibu lulusan sarjana atau yang setara akan berbeda dengan ibu yang lulusan SD,SMP atau yang setara. Untuk itu, hindari nikah muda.

Kata Kunci : kebutuhan anak Indonesia

Pendahukuan
Anak adalah generasi muda Indonesia yang akan membawa nama baik Indonesia di kanca Internasional. Namun, pada era ini masih banyak anak yang berkebutuhan khusus. Menurut Nurhayati & Ningsih (2017:8) menyatakan bahwa jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia adalah sekitar 7% dari total jumlah anak usia 0-18 tahun atau sebesar 6.230.000 pada tahun 2007. Seperti yang diungkapkan uraian diatas bahwa masih banyak anak anak yang memiliki kebutuhan khusus. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara. Fauzi (2017) menyatakan “Hak anak yang wajib dipenuhi diantaranya adalah hak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran”.
 
Pembahasan 
Upaya Pembinaan Anak Pada Aspek Pendidikan
            Pendidikan dan pengajaran anak berawal dari orang tua sejak dini, kemudian dia akan dilepas di tingkat PAUD. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak  sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian pendidikan untuk memberikan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Berikut adalah uraian manfaat dari PAUD menurut Dhiva (2016) :

1.      Memperkenalkan anak pada dunia sekolah

Pengalaman belajar di PAUD akan membantu anak untuk lebih siap dalam menerima pelajaran formal di bangku pendidikan yang lebih tinggi dalam hal ini adalah Sekolah Dasar (SD). Hal ini yang menjadi salah satu alasan mengapa UNESCO merekomendasikan setiap anak dalam mendapatkan pendidikan.Lingkungan belajar di sekolah tentu berbeda dengan lingkungan rumah. PAUD juga dapat menjadi jembatan perbedaan suasana di kedua tempat tersebut. Mereka  akan belajar berinteraksi dengan anak sebayanya, mengikuti aturan yang ditetapkan di playgroup atau TK, belajar beradaptasi dengan rutinitas, dan sebagainya. Anak yang mendapatkan pendidikan di PAUD sering kali memiliki kemampuan yang lebih baik dalam berkomunikasi saat sekolah.

2.      Menumbuhkan imajinasi dan kreativitas

Anak anak usia dini belajar dengan cara bermain. Lembaga-lembaga penyediapendidikan anak usia dini merupakan tempat yang tepat untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut. Bila belajar dalam  suasana yang menyenangkan, akan lebih mudah baginya untuk menyerap berbagai bimbingan yang diberikan. Selain mempelajari berbagai keterampilan dasar untuk membaca dan menulis, mereka juga akan mendapatkan banyak rangsangan yang akan memancing imajinasi dan kreativitasnya.
            Dalam pendidikan anak pada tingkat PAUD ini juga diajarkan mengenai permainan tradisional. Tujuan permainan tradisional ini menurut Milla (2017:6) yakni mengetahui tingkat motorik kasar anak melalui permainan tradisional dalam pembelajarannya , mengetahui faktor pendorong dan faktor penghambat  dalam mengenalkan permainan tradisional pada anak , dan untuk mengenalkan kembali budaya daerah melalui permainan tradisional pada anak. Namun, permainan tradisional ini masih jarang digunakan oleh orang tua sebagai media pembelajaran pada anak dikarenakan terdapat berbagai faktor penghambat seperti kurangnya pemahaman orang tua akan manfaat permainan tradisional.

Pengembangan Kreativitas Anak
            Sesuai dengan uraian tersebut diatas maka perlulah pengembangan kreativitas dalam diri kanak kanak. Banyak sudah perkembangan teknologi yang dapat digunakan anak anak dalam pengembangan kreativitas. Namun, disamping itu ada pula permasalahan perkembangan kretivitas di Indonesia.
1.      Psikologi
Psikologi menurut Rahmawati & Kurniati (2011:7) diantaranya seperti pengaruh kebiasaan, kemalasan mental, ketakutan untuk mengambil resiko, takut dikritik, dan lain sebagainya. Yang kedua yakni sistem pendidikan anak anak. Menurut Madyawati (2017:30) keberhasilan anak ditentukan oleh IQ hanya 20 % saja, sedangkan 80 % sisanya ditentukan oleh faktor faktor eksternal lainnya. Faktor eksternal yang dimaksud adalah faktor lingkungan dan faktor keluarga. Yang ketiga yakni berkaitan dengan Sumber Daya Manusia. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas merupakan faktor penting dalam era global ini. Hal ini tentunya juga berkaitan dengan kualitas pendidikan di Indonesia. Menurut pendapat dari Tjalla (2010) “Rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia dihasilkan dari kualitas pendidikan yang rendah”. Apabila kualitas pendidikan rendah maka kualitas sumber daya manusia pun rendah.   Yang keempat yakni kebutuhan anak berbeda satu dengan yang lain. Menurut Sujiono, Zainal, dkk (2014) menyatakan bahwa “ada berbagai pendekatan, teori, prinsip-prinsip perkembangan dan tentunya disesuaikan dengan kebutuhan anak masing masing”. Menurut pendapat diatas bahwa benar adanya bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda.
2.      Nutrisi
Nutrisi merupakan faktor penting dalam menentukan tingkat kesehatan. Menurut Sulistyawati & Mistyca (2016:4) “Keadaan kekurangan gizi pada anak-anak menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.”. Peran orang tua sangat penting terutama ibu untuk membawa anak anaknya ke Posyandu. Oleh karena itu diadakannya penelitian. Penelitian ini berguna untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan sikap ibu dalam kemampuan menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak balita dengan gizi kurang. Hasil penelitian 52,12% memiliki persepsi positif tentang posyandu dan 59,57% responden memiliki perilaku rutin membawa balita ke posyandu (Kusuma,dkk, 2017:3).

3.      Gizi
Menurut Habibi (2018:4) “sejak seorang ibu mengetahui dirinya hamil, dia harus memotivasi dirinya untuk memberi gizi terbaik pada janinnya”. Tentunya yang diharapkan dari hal ini adalah terciptanya gizi seimbang dari anak anak. Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari–hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memerhatikan aktivitas fisik, dan berat badan (BB) ideal. Gizi buruk di Indonesia masih tinggi. Menurut Alwi (2018) menyatakan bahwa berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan Kementrian Kesehatan pada tahun 2016 menunjukan gizi buruk sebesar 3,4 %, gizi kurang 14,4 %, dan gizi lebih 1,5 %. Dengan ini, disimpulkan bahwa gizi buruk dan gizi kurang masyarakat Indonesia yakni lebih besar daripada gizi lebih.

Faktor Pendukung Pemenuhan Kebutuhan Anak Indonesia     
            Tingkat pendidikan seorang ibu juga menjadi faktor pendukung mengenai kebutuhan anak anak nya. Juga ibu yang menikah di usia dini pun menjadi faktor. Ibu yang menikah usia dini yang berpendidikan terakhir SMP pengetahuannya lebih baik dibandingkan dengan ibu yang menikah usia dini yang pendidikan terakhirnya SD menurut Lestarini (2013). Jadi, ibu yang lulusan SMP lebih mengetahui tentang gizi dan nutrisi anak dibandingkan ibu yang lulusan SD.

Penutup
Kesimpulan
            Pada akhir akhir tahun ini sudah terlihat jelas bahwa anak berkebutuhan khusus di Indonesia sekitar 6.230.000 anak pada tahun 2017. Banyak pula macam kebutuhan anak Indonesia yang masih harus dipenuhi. Kebutuhan tersebut diantaranya pendidikan, gizi, dan nutrisi. Faktor pendukung juga harus dilalui oleh para ibu di Indoneisa. Menghindari nikah muda sehingga kualitas pendidikan, gizi, dan nutrisi anak terpenuhi dengan maksimal.



Daftar Rujukan

Alwi, T. (2018, September 10). Tribunnews.com. Dipetik September 09, 2018, dari http://www.tribunnews.com/regional/2018/01/25/angka-gizi-buruk-di-indonesia-masih-tinggi-inilah-penyebabnya
Dhiva, A. A. (2016, Desember 20). Dipetik September 09, 2018, dari Parenting Club: https://www.parentingclub.co.id/smart-stories/alasan-si-kecil-perlu-mendapatkan-pendidikan-anak-usia-dini
Fauzi, A. Z. (2017, Desember 28). Dipetik September 09, 2018, dari GEOTIMES: https://geotimes.co.id/opini/mengenal-anak-berkebutuhan-khusus/
Habibi, M. (2018). Analisis Kebutuhan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Deepublish.
Karmila, M. (2017). Empowerment. siliwangi: STKIP Siliwangi.
Kusuma, D. P., Sar, S. P., & Nurhidayah, I. (2017).JKP (Jurnal Keperawatan Padjajaran).Bandung : Universitas Padjadjaran.
Lestarini, R. D. (2013, Desember 03). Unej Digital Repository. Dipetik September 11, 2018, dari http://repository.unej.ac.id/handle/123456789/3239
Madyawati, L. (2017). Strategi Pengembangan Bahasa Pada Anak. Jakarta: Kencana.
Managali, A. (2017, November 20). Diambil kembali dari sumberpengertian.co: http://www.sumberpengertian.co/pengertian-kebutuhan
Nurhayati, F., & Ningsih, N. S. (2017). Jurnal Kesehatan. Bandung: Poltekkes Tanjungkarang.
Rachmawati, Y., & Kurniati, E. (2011). Strategi Pengembangan Kreativitas pada Anak Usia Taman Kanak Kanak. Jakarta: Kencana.
Sujiono, Y, N., Zainal, O., & Rosmala, R. (2014).Metode pengembangan kognitif.
Sulistyawati, S., & Mistyca, M. R. (2016). Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia. Indonesia: Alma Ata University Press.
Tjalla, A. (2010). Potret Mutu Pendidikan Indonesia Ditinjau dari Hasil-Hasil Studi Internasional. Tangerang Selatan : Temu Ilmiah Nasional Guru II.
Wibisono, C. (2013). Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan. Salatiga Jawa Tengah: Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga

No comments:

Post a Comment

Cara Penulisan Artikel Yang Baik dan Benar

Alam Rahmatullah S.Tr Keperawatan Lawang alamrahmatullah188@gmail.com Artikel adalah karangan lengkap dengan panjang tertentu ...